Cari
  • I ASK

Kesehatan Mental

Pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia adalah bahwa 'Tidak ada kesehatan yang utuh tanpa kesehatan mental di dalamnya.'


Sayangnya, di Indonesia, kita menghadapi tantangan demi tantangan dalam dunia kesehatan mental termasuk tingginya tingkat depresi, kurangnya akses pada layanan psikologis dan stigma yang sudah menyebar ke mana-mana.


Bahkan dengan banyaknya organisasi yang mengedepankan kesehatan mental, isu yang utama tetap ada.


Di I ASK, kami bertekad mengambil pendekatan yang berbeda.


Kami ingin memperlengkapi setiap pribadi dengan keterampilan dan pengetahuan bagaimana untuk menjaga satu sama lain dengan baik. Penelitian telah menunjukkan secara konsisten betapa pentingnya dukungan sosial selama kondisi stress (Institut Informasi Kesehatan Kanada, 2012).


Pendekatan yang tidak kalah pentingnya adalah di I ASK, semua gerakan dan usaha kami didasarkan atas riset, lebih dari sekedar itikad baik, dan sekaligus bermaksud berkontribusi pada dunia riset untuk bidang ini.


Untuk tujuan akhir inilah, kami sedang dalam proses mempersiapkan sumber daya berbasiskan riset untuk membantu Anda dalam memberikan dukungan bagi orang-orang terkasih Anda.


Di antaranya, kami sedang mempersiapkan buklet yang berfokus pada sembilan cara kita dapat mendukung orang-orang terkasih. Sedianya buklet ini akan diluncurkan di paruh pertama 2020.


Untuk menjamin kami dapat berikan sumber daya yang terbaik yang kami bisa, kami akan meminta para pakar dunia di bidang ini untuk membaca buklet dimaksud sebelum peluncurannya nanti.


Berikut ini adalah penggalan buklet tersebut, di topik bagaimana meresponi seseorang yang baru saja berbagi bahwa dirinya sedang melewati masa yang sulit:


Pepatah yang pernah dikatakan oleh Lisa Bevere, yang sangat amat penting dalam masa-masa sulit seperti ini, adalah, "Kebenaran tanpa kasih itu kasar, tapi kasih tanpa kebenaran itu lemah. "


Tidak cukup bagi kita untuk sekedar memberikan respon. Kita harus meresponi dengan kasih.


Tidak jarang, bila seseorang telah datang pada kita berulang kali atau bila orang tersebut adalah seseorang yang dekat dengan kita, kita bereaksi dengan frustrasi.


Frustrasi ini mungkin lahir dari kasih, di mana kita rindu melihat mereka pulih dan sehat. Di sisi lain, frustrasi tersebut bisa jadi keluar dari keletihan, yang muncul karena perjalanan semacam ini menguras kesabaran dan bahkan cadangan kekuatan kita.


Apapun alasan yang membuat kita frustrasi, kita perlu secara sadar dan sengaja memeriksa emosi kita pribadi dan menjaga pikiran kita tetap jernih ketika memberikan reaksi atau respon.


Orang lain tidak selalu ingat apa yang kita katakan, tetapi mereka akan ingat apa yang mereka rasakan karena apa yang kita katakan atau buat.


Secara praktis, tidak ada satu formula ajaib bagaimana memberikan respon pada orang lain. Bagi seseorang, kasih yang tegas adalah sesuatu yang sehat dan baik untuknya. Namun bagi seorang yang lain, kasih yang demikian berpotensi menjadi titik nadi terakhir yang membawa mereka pada kondisi kesedihan yang semakin dalam.


Oleh karenanya, faktor-faktor inilah yang sangat menentukan yakni seberapa kamu mengenal orang tersebut, apakah dengan tingkat keahlian yang kamu miliki membuatmu cukup nyaman untuk memberikan respon dan memastikan semua yang kamu lakukan adalah atas dasar kasih.


Satu hal yang dapat membantu adalah mengingatkan mereka akan jati diri mereka, bukan untuk mempermalukan mereka, tetapi untuk memberikan mereka semangat. Kita akan mengulas lebih dalam perihal ini di bagian Afirmasi.


Area yang perlu dihindari adalah mengecilkan atau merasionalisasi rasa sakit mereka. Salah satu contoh, setelah melalui episode depresi yang akut, seorang pemimpin komunitas secara terang-terangan menyatakan bahwa depresi yang saya alami tidak mempengaruhi nilai diri saya dan ketidakmampuan saya untuk berkonsentrasi dalam pelayanan hanya disebabkan etika kerja saya. Di kesempatan yang lain, setelah membuka diri dan membagikan luka saya, lawan bicara saya menimpali bahwa sumber luka saya berasal dari tempat lain. Ini adalah contoh-contoh dari respon yang tidak menolong. Sebaiknya, pastikan untuk lakukan tehnik pendengaran aktif di atas, jangan memotong pembicaraan dengan mengalihkan fokus pada diri Anda (apabila Anda butuh untuk berbagi, adalah lebih baik untuk mencari orang lain yang berada dalam kondisi lebih baik). Di situasi lainnya, seorang teman telah menyerah untuk berbagi cerita dengan ibundanya karena sang ibu seringkali menyela pembicaraan dan mulai memberikan nasihat yang tidak dimintanya.


Satu pendekatan yang baik (khususnya untuk para orangtua kepada anak-anaknya), adalah dengan bertanya pada mereka apa yang mereka perlukan dari Anda. Apakah mereka ingin Anda terlibat, Anda mendengarkan saja atau memberi mereka masukan? Walau naluri kita (khususnya jika lawan bicara kita adalah seorang yang sering berkomunikasi dengan kita atau seseorang orang yang sangat dekat dengan kita) adalah memberikan nasihat, "hanya" mendengarkan dapat berbuat lebih. Berbagi dengan orang lain tentang apa yang kita rasakan menciptakan perasaan didukung, didengarkan, dan menghasilkan kelegaan emosional, yang walau bersifat sementara, namun sangat besar dan signifikan."


Harapan kami yang terdalam adalah kami, sebagai orangtua, kawan, teman sejawat, guru, pemimpin rohani, manajer dan lainnya, pada akhirnya belajar bagaimana mendukung dan menopang satu sama lain dalam masa-masa sulit.


Nantikanlah peluncuran buklet-buklet kami.



25 tampilan
I ASK

info@iasktoday.com

Jakarta, Indonesia

©2019 by I Ask.

FA_logo_I ASK-02.png
  • Instagram